Bukannya Aku Tidak Menyayangimu, Tapi…


Musim dingin di Taipei. Aku masih menunggu kiriman pesan singkat darinya. Dari Aceh. Beberapa hari terakhir, hubunganku dengan Andi tak baik. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di tingkat akhir kuliahku, aku putus hubungan yang telah kami jalin selama dua tahun.

Bukannya aku tak menyayangimu, tapi aku ingin fokus dengan tugas akhir. Kirimi aku email saat kau sudah tak marah lagi. Maafkan aku.

970525_595321153847676_1966006140_n

Foto: Siti Zulaikha

Di luar perkiraan, rupanya dia telah marah lebih dari seminggu. Hari-hari di musim dingin rasanya semakin membuatku lemah. Berhari-hari suhu rasanya semakin mendekati angka di bawah 10 derajar celcius. Dan entah kenapa aku merasa keputusanku mengakhiri hubungan adalah salah.

Siang tadi, pertengahan bulan Desember. Kuberanikan diri untuk lebih dulu mengirimkan email panjang lebar padanya. Barangkali suasana akan lebih mencair. Tapi rupanya dia tetap tak membalas. padahal aku yakin, dia pasti telah membacanya.

Besoknya, aku menyapanya lagi. Lagi-lagi tak ada balasan. Aku terus menunggu hingga malam di depan laptop. Bunyi penanda ada pesan singkat di messenger yang masuk rupanya tak membuatku bangun saat tiba-tiba tertidur di meja belajar, di hadapan laptop. Rupanya dari Andi.

Maaf aku telah marah dan mengabaikanmu. Kau pasti sedang berusaha menyelesaikan kuliahmu di sana. Fokuslah. Aku menunggumu.

Saat membaca pesan tersebut di pagi hari, aku berpikir bahwa sebenarnya aku berhak memutuskan apa pun yang aku mau. Tanpa interfensi dari siapa pun.

Tapi, bukan berarti aku tak menyayangimu.

Jilbab Baru


Rima sudah dari tadi disibukkan dengan jilbab barunya. Hadiah dari sang pacar dalam rangka satu tahun telah menjalin hubungan. Jilbab ini sedikit lebih besar dan lebih tebal disbanding dengan jilbab yang biasa ia pakai.

blog

Foto: Dokumentasi Siti Zulaikha

“Memangnya kenapa dia ngasi kamu jilbab gituan Rim?”

Rima tak menjawab. Dia masih saja sibuk memutar-mutar ujung jilbab ungunya itu di hadapan cermin.

“Memangnya dia nyuruh kamu jadi akhwat-akhwat gitu ya?” satu pertanyaan lagi masih belum dijawab Rima. “Memangnya dia ga mau terima kamu yang awut-awutan seperti biasanya gitu? Celana jeans, kemeja, tanpa….kaos kaki?”

“Aku juga ingin berubah ke arah yang lebih baik… seperti kamu.” Akhirnya Rima menjawab.

“Kalau gitu, kamu berubah demi dia?”

“Bisa dibilang gitu sih…”

“Kalau dia akhirnya mutusin kamu? Kamu bakal berubah lagi seperti dulu gitu?”

“Mmmm…”

Rima sebenarnya sedikit tersinggung dengan tanggapan Nisa, teman yang telah lama dikenalnya. Bagaimana kalau perkataan temannya yang sudah lama berjilbab lebar itu ternyata benar.

“Memangnya kamu sendiri kenapa berpenampilan gitu Nis? Dengan jilbab lebar?”

“Karna aku nyaman. Nyaman telah mencoba menjadi lebih baik di mata Allah. Karena Allah. Dan setidaknya, jika aku meninggal di jalan, auratku sudah tertutup.”

Nama Kecil


Nama kecil memang diartikan sebagai nama yang kita pakai saat masa kecil. Panggilan sayang.

Zalikha Dhiet. Itu memang sebuah nama. Panggilan sayang yang diberikan ibu. Suatu hari saat masih berusia masih di bawah lima tahun, ibu bilang warga Gampong Seuneubok sudah memanggilku dengan nama tersebut.

whats your nameIbuku yang cantik selalu bilang, nama tersebut punya arti. “Zalikha” sama dengan Zulaikha, nama seorang istri raja yang menggoda Nabi Yusuf angdikisahkan dalam Al-Qur’an. Sementara “Dhiet”, berarti cantik. Suatu hari setelah puluhan tahun terlewati dengan nama kecil tersebut, seorang teman mengomentari.

“Di kampungku, ‘dhiet’ tersebut artinya kecil atau sedikit. Cocok sekali denganmu.” Sedikit diperjelas, ada beberapa arti dari kata ‘dhiet’. Bisa berarti cantik, tapi sialnya juga bisa berarti kecil atau sedikit. Tapi semuanya itu bukannya masalah besar. Yes!

Suatu hari saya juga mengecek arti dari kata ‘zulaikha’ di internet.”Cantik”, arti dari nama tersebut. Berarti bila digabungkan, “Zalikha Dhiet” berarti “Cantik-cantik” atau “Cantik Sedikit” atau satu lagi, “Cantik yang Kecil”. Mana yang cocok dengan saya?

Nama kecil mungkin juga akan menjadi nama yang lebih terkenal. Saat seluruh warga kampung memanggilmu Zalikha Dhiet, hmm?

Jamur Kuku? Jaga Kebersihan aja!


Suka sepele kebersihan tangan dan kuku? Yuk intipin deh bakal gimana akibatnya. Cekidot…

***

Saat masih duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sempat merasakan tidak enaknya kuku terkelupas. Hampir kesepuluh jari tangan saya kukunya rapuh dan menguning. Beberapa minggu selanjutnya kuku-kuku akan terkelupas dari pangkalnya.

Jadi bayangkan saja, sepuluh jari saya saat itu tidak ada kukunya. Huhuhu…

Ibu mengantarkan saya ke tempat praktek dokter, dr. Munizar, satu-satunya dokter di kawasan Pasar Seulimeum saat itu. Katanya saya mengidap penyakit jamur kuku. Penyebabnya adalah deterjen. Memang pasa masa itu ibu masih diupah mencuci baju tetangga dan kami mencuci banyak baju setiap hari.

Selanjutnya, ibu melarang saya menyentuh deterjen. Ibu juga akhirnya memilih untuk pensiun saja. Tidak sampai dua bulan, kuku saya mulai tumbuh kemmbali. Tapi bentuknya tidak persis semula. Lebih pendek dan imut. Hehehe.

Dokter memang sudah bilang bahwa penyakit ini gampang sembuh, asal rajin pakai salap dan minum obat. “Setelah sembuh, kebersihan juga harus dijaga, cuci tangan sampai bersih setelah memegang deterjen,” dokternya bilang gitu.

Hingga sekarang, saya selalu mencuci tangan beberapa kali dengan sabun setelah menggunakan deterjen saat mencuci pakaian. Jika tidak, kuku di jari kelingking mulai mengerut di pangkalnya, selanjutnya akan semakin rapuh, menguning, dan terkelupas. Jamur Kuku.

Kapur Ajaib


Beberapa dari kita pernah memiliki pengalaman dengan kapur. Saya tidak akan bercerita tentang kapur ajaib pengusir serangka. Kapur ajaib ini berbeda.

Saat masih di kelas tiga Sekolah Dasar (SD), saya punya hobi menarik. Bersama kedua kakak saya, sepulang sekolah dan saat situasi sepi, kami menjalankan misi menegangkan, yaitu mengumpulkan kapur tulis warna-warni yang biasa digunakan guru-guru kami untuk menggambar persegi atau lingkaran.145294_kapur-warna-warni_663_382

Tenang. Kami tidak mencuri. Kami hanya memungut kapur-kapur mungil yang jatuh di bawah papan tulis. Di rumah, kami sering menggunakannya kembali untuk menulis huruf-huruf atau angka di pintu dapur. Selanjutnya salah satu di antara kami cukup berpura-pura jadi guru.

Suatu hari, saya sengaja pulang lebih telat dan mencoba mengumpulkan kapur warna lebih banyak. Saat itu saya tertarik pada warna kuning. Dan hanya kapur kuning yang saya kumpulkan. Mulai dari yang kecil sekali sampai yang berukuran sedang. Kapur-kapur tersebut saya masukkan ke saku baju dan rok.

Saya hendak pulang ke rumah, tapi tergiur pada keripik pisang yang dijual Nek Ngoh, penjual cemilan tersohor di SD Seuneubok saat itu. Nek Ngoh juga menarik perhatian sebab di wajahnya banyak ditumbuhi benjolan-benjolan seperti jerawat, dan nenek ini sering ngajak ketawa.

Jadi lah saya membeli satu bungkus keripik pisang dan menaruhnya ke dalam saku baju. Saya lupa bahwa di situ juga telah saya masukkan kapur kuning. Dan tanpa sengaja kapur kuning tersebut termakan, dan rasanya tenggorokan terbakar dan seperti memakan busa sabun colek.

Segera saya berlari ke rumah nenek, tak jauh dari sekolah dan melaporkan semua yang terjadi. Akhirnya saya disembuhkan dengan satu gelas air gula. Misi saya tak terhenti sampai di situ. Esoknya, saya masih mengincar kapur kuning dan hanya mendapati yang paling kecil.

Saya masukkan ke saku baju. Sepulang sekolah, hal yang sama terjadi. O, bukan, maksud saya tergiur keripik pisang Nek Ngoh. Tapi sayang, uang jajan sepertinya telah lebih dulu ludes. Tapi ya, saya rogoh aja, memastikan dugaan saya betul. Tapi saya malah menemukan uang 50 rupiah dan bukan kapur di saku seragam. Wow!

Dan setiap kali saya ceritakan soal kapur kuning ajaib yang berubah jadi uang logam tersebut, semua orang yang mendengarnya akan bilang, “kuwat that teumaki (dasar bohong).” Hmm???

“Amor Vincit Omnia”


Baru pertama kali saya baca kalimat “Amor vincit omnia” di buku yang ditulis Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang. Salim menceritakan tentang beberapa kisah cinta jaman dulu yang berujung tidak menyenangkan saat perasaan cinta itu tidak berada di jalan yang benar. Seperti amor vincit omnia, cinta yang menaklukan segalanya.untuk blog

Cinta. Kata orang memang kata tersebut susah dijelaskan artinya. Ada betulnya juga. Apalagi saat saat saya masih di usia remaja. Perasaan ‘suka’ pada lawan jenis kadang susah untuk diterjemahkan dan didefinisikan maknanya. Barangkali karena faktor kedewasaan serta antena pikiran yang belum dipanjangkan. Hehe.

Tapi, ada satu hal yang saya ingin ceritakan di sini. Soal kekuatan cinta yang nyaris susah diartikan itu. Cerita yang saya alami semasa remaja dulu.

***

“Tolong antarkan ke UKS (Unit Kesehatan Sekolah) sebentar ya, kepalaku pusing!” Bila, teman sebangku saat SMA itu, tiba-tiba saja mengeluh pusing. Kuraba pipinya, panas! Langsung saja saya dan beberapa teman yang lain membopongnya ke ruang UKS. Sebelum memasuki ruang itu, tiba-tiba ada kakak kelas yang digilai para adik leting, melintas.

“Tunggu, aku mau lihat dia dulu,” kata si Bila yang langsung berdiri tegak dan memandangi kakak kelas yang tinggi, putih, rambutnya rapi, giginya putih, dengan wajah agak oriental. Lupa namanya siapa. Ramadhan gitu deh nama belakangnya… “Kita balik saja ke kelas. Aku udah enakan.” Lanjut si Bila.

Sering saya mendapati kisah-kisah yang serupa. Bahwa perasaan cinta dapat menyembuhkan. Habiburrahman juga punya kisah yang sama ‘kan, di novel “Ayat-ayat Cinta”-nya? Maria sembuh setelah dinikahi oleh Fahri, suami orang yang telah lama ia cintai. O, ibu saya juga pernah mengeluh pusing dan langsung sembuh saat makan malam bersama ayah.

Memang, rupanya Allah tidak pernah Menciptakan sesuatu tanpa manfaat. Bahkan perasaan cinta yang sering kita anggap sepele. Dan sebaiknya kita juga harus menjaga perasaan cinta agar tidak keluar jalur, agar tidak menjadi “Amor vincit omnia” dan menaklukan segalanya, termasuk jiwa. Agar perasaan tersebut menjadi cinta yang menyembuhkan.

Sahabat Lintas Batas (I)


Persahabatan kita dimulai saat kamu membuka pintu kamar kost.

Aku ingat betul saat itu, Cherryl namanya, teman satu kost di daerah Manggarai, Jakarta Selatan. Juli 2012, kami sama-sama diwakilkan sebagai reporter magang di beberapa media massa berskala nasional oleh masing-masing kampus kami. Aku dipercayakan oleh Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, sementara Cherryl mewakili jurusan Komunikasi dari Undana, Kupang.

Kami sama sekali tak pernah menyangka bahwa kamilah, dua perempuan diantara semua reporter magang yang berjumlah enam orang. Setiap kampus mengirim dua reporter, yaitu dari kampus USU, Undana, Unsyiah, dan IAIN Ar-Raniry. Semua kampus ini bekerja sama dengan LSPP. Lembaga (lupa singkatan S-nya apa, hehe. Eh tapi S itu singkatan dari Studi) Studi Pers dan Pembangunan (iya betul). Kami menghabiskan waktu sebulan untuk fieldwork dan sekaligus memperdalam ilmu jurnalistik.

Selam sebulan itu pula lah aku tinggal sekamar dengan Cherryl. Kamar mungil yang hanya bisa memuat dua tempat tidur dan satu lemari. Selebihnya hanya menyisakan beberapa jengkal saja dari pintu kamar. Aku masih ingat saat awal perkenalan kami.

“Hei, telat sekali kamu sampai.” Sapa Cherryl saat membukakan pintu kamar. Dari Kupang, Cherryl memang telah sejak sore tadi sampai. Perkenalan kami terus berlanjut sampai jam tidur. Ia memperkenalkan namanya, Cherryl Welvart. Aku sempat tidak menyangka, bahwa perempuan berambut pendek, berkacamata simpel, dan tomboy ini memiliki nama yang manis.

Walau tinggal dengan rekan yang beda agama, namun aku dan Cherryl tidak pernah merasa sedang berada dalam dua dunia yang berbeda. Cherryl sering bertanya tentang Islam dan aku pun terlalu banyak bertanya tentang Protestan. Kami juga sering berbagi cerita tentang apa yang akan terjadi saat hari pertama melaksanakan magang nanti, tentang berat atau tidakkah melaksanakan liputan berita di ‘negeri’ orang, tentang rindu keluarga, uang saku apakah akan cukup.

Satu hal yang paling kuingat, belum sehari ia mengenalku, tapi keakrabannya telah terasa, “Akan kuceritakan tentang kamu pada ibuku,” katanya.

(Dah cape ngetik, bersambung dulu ya… heheh)

Image